News Update :
Home » » MITRA KEMANUSIAAN

MITRA KEMANUSIAAN

Penulis : Rey Yudhistira on Jumat, 04 Juni 2010 | 12.34

Jika Perang Bermula dari Pikiran, Maka Ciptakanlah Kedamaian

oleh Mohammad Sammak

Beirut, Lebanon – Ada sebuah ungkapan lama Babilonia tentang kompromi yang berbunyi: "Jika ada kebenaran seutuhnya, tiadalah perdamaian. jika ada perdamaian, tiadalah kebenaran seutuhnya." Apa yang ingin disampaikan ungkapan bijak tersebut adalah pencarian keadilan sempurna bagi sebuah masyarakat atau tujuan mungkin secara ideologi memberikan kepuasan, tetapi tidak mungkin seiring sejalan dengan perdamaian, karena perdamaian dibangun di atas berbagai kompromi yang dilukis dengan sapuan warna abu-abu, bukan hitam atau putih.


Yang membuat ungkapan bijak ini lebih rumit adalah hubungan antara kebenaran dan agama. Agama adalah kebenaran sejati, kebenaran yang datang dari Tuhan dan yang mewakili kehendak-Nya. Dalam hal ini, bagaimana mungkin, bahkan demi perdamaian, membuat sebuah kompromi antara berbagai masyarakat dengan agama yang berbeda-beda – dengan kata lain, tafsiran yang berbeda-beda tentang kehendak Tuhan?

Ketika masyarakat diidentifikasikan secara eksklusif dengan atau mengidentifikasikan diri mereka berdasarkan agama, keadaan menjadi lebih ruwet dan lebih terbuka terhadap konfrontasi. Agama berbicara tentang sebagian dari perasaan dan kepekaan terdalam dari pribadi dan atau masyarakat; ia berada pada tempat terdepan dalam ingatan kolektif sejarah yang panjang, dan sering meminta kesetiaan universal, khususnya dalam agama Kristen dan Islam. Begitulah, hingga agama dilihat sebagai penyebab konflik dan sering kali, kenyataannya, menjadi penguat konflik yang berbagai penyebabnya tidak dikenali dalam jiwa agama.

Para peneliti yang mempelajari peperangan, agresi, dan akar evolusi dari konflik menemukan bahwa perang adalah kebiasaan lama yang sulit dihilangkan. Mungkin bom nuklir perlu dijatuhkan lagi untuk membuat setiap orang mengerti. Sangat sedikit momen dalam sejarah peradaban yang tak menampilkan peperangan. Pada abad ke-20, diperkirakan sekitar 100 juta orang meninggal dalam berbagai perang di dunia.

Para arkeolog dan antropolog telah menemukan bukti militerisme dalam 95 persen kebudayaan yang telah mereka kaji. Para pejuang sering kali merupakan anggota yang paling dihormati dari kelompok mereka. Para ahli genetika menemukan kenyataan bahwa Jenghis Khan, kaisar Mongolia abad ke-13, merupakan ayah dari begitu banyak anak sehingga 16 juta orang bisa jadi merupakan keturunannya. Arthur Koestler, pengarang "Darkness at Noon," menuliskan bahwa " di semua budaya pembunuhan yang dilakukan demi tujuan-tujuan pribadi secara statistik sangat kecil. Pembunuhan demi tujuan-tujuan umum merupakan fenomena dominan dalam sejarah manusia. Tragedi yang terjadi tidak diakibatkan oleh jumlah agresi yang berlebihan, tetapi akibat pengabdian secara berlebihan. Kesetiaan dan pengabdianlah yang membuat orang jadi fanatik, bukan spiritualitas."

Berkaitan dengan Islam, ada tiga faktor utama yang membakar konflik dan menghalangi penciptaan perdamaian di dunia: kesalahan dalam penafsiran Islam oleh berbagai individu dan kelompok ekstremis; kesalahpahaman tentang Islam oleh non-Muslim, khususnya di Barat; dan salah tafsir atau penodaan Islam dalam media internasional.

Tidak sulit melihat keterlibatan Islam dalam banyak konflik global dewasa ini. Ada dua penafsiran terhadap fenomena ini: umat Muslim yakin bahwa permasalahan disebabkan oleh gambaran buruk tentang Islam dalam alam kesadaran Barat, dan oleh berbagai upaya terus menerus menggoyang dunia Muslim sebagai alat untuk menjamin keamanan Israel. Di sisi lain, umat non-Muslim yakin bahwa permasalahan terletak di dalam Islam "sebagai agama yang menentang demokrasi dan liberalisme." Umat Muslim menganggap diri mereka sebagai korban dari usaha mereka mempertahankan agama mereka, sementara non-Muslim menganggap Islam itu sendirilah masalahnya. Umat Muslim mencari penyelesaian melalui cara-cara perbaikan citra Islam; non-Muslim berpendapat bahwa tidak akan ada penyelesaian kecuali dari dalam Islam, melalui suatu perubahan konsep-konsep fundamental agama tersebut.

Sesungguhnya, di dalam Islam, pembunuhan atas satu orang tak berdosa dianggap sebagai sebuah kejahatan terhadap seluruh umat manusia. Hal tersebut merupakan kejahatan yang tidak dapat dibenarkan, tak peduli bagaimana caranya pelaku kejahatan tersebut mencoba memanipulasi agama untuk membenarkan tindak kejahatan mereka. Nabi Muhammad berkata: "Seorang Muslim adalah mereka yang tidak akan menyakiti orang lain (bukan hanya sesama Muslim) baik dengan tangannya atau perkataannya."

Hal yang musti disadari, politik adalah hasil kerja manusia, sementara agama merupakan buah karya Tuhan, pencipta manusia. Apa yang membuat politik agama sangat berbahaya adalah keputusan-keputusannya yang dapat dianggap sebagai perwujudan kehendak Tuhan, dan menentang keputusan itu, sama saja dengan melawan kehendak Tuhan.

Misalnya, agama secara tidak langsung telah mempengaruhi kebijakan Amerika di Timur Tengah sejak awal, walaupun tidak pernah sebesar sekarang, sejak Presiden George W. Bush memegang tampuk pemerintahan. Itu sebabnya perlawanan dunia Islam terhadap kebijakan itu juga berlandaskan pada agama. Kedua belah pihak sama-sama bersalah, karena sebuah kesalahan tidak dapat diperbaiki dengan kesalahan lain. Kesalahan-kesalahan tersebut tidak akan bisa menciptakan perdamaian dan jauh dari spiritualitas.

Asma Asfaruddin, profesor kajian Islam pada University of Notre Dame, menulis: "Untuk mengatasi kondisi dunia yang semakin memburuk dewasa ini dan masalah yang ditengarai sebagai ekstremisme agama, kita harus mengentaskan kemiskinan global dan meningkatkan martabat manusia biasa sebagai prioritas utama." Kita juga harus memasukkan nilai-nilai moral dan etika dalam masyarakat dan diplomasi internasional, menuntut pertanggungjawaban para pemimpin kita atas nilai-nilai tersebut. Ini akan menjadi cara terbaik dalam meruntuhkan platform para ekstremis yang memetik keuntungan dari kesengsaraan kaum miskin dan tak berdaya. Di atas landasan bersama seperti itulah, yang dibangun berdasarkan prinsip-prinsip etika universal, beragam kelompok manusia dapat bersatu.

Konflik militer tidak diawali oleh satu pihak dengan menembakkan senjata ke pihak lain. Perang berawal dalam pikiran dan dalam pikiran pula kita dapat membuat perdamaian. Karena itu pembangunan perdamaian bukan hanya soal gencatan senjata atau bahkan pernyataan-pernyataan politik. Ia adalah sebuah budaya, pendidikan, dan sebentuk spiritualitas yang berasal dari pikiran-pikiran mereka yang mempercayainya. Kehancuran tidak akan menghasilkan kehidupan, ia juga tidak mewakili kemenangan. Keyakinan bahwa menghancurkan mereka "yang tidak beriman" merupakan tugas suci yang dapat membebaskan kekuatan kemerdekaan dan demokrasi merupakan sebuah khayalan. Dan kemenangan khayali merupakan kekalahan yang terburuk.



Kantor Berita Common Ground


Share this article :

Posting Komentar

POST

 
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Copyright © 2011. Bukan Sastrawan . All Rights Reserved.
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger