News Update :
Home » » Membangun Karakter Positif Melalui Eksperimen Sains

Membangun Karakter Positif Melalui Eksperimen Sains

Penulis : Rey Yudhistira on Senin, 21 Juni 2010 | 12.27

 Oleh: I Putu Sidibawa
 21 juni 2010

Kebebasan berkreasi untuk mengeksplorasi sains harus diperkenalkan sejak dini. Membiasakan anak-anak mencari proyek-proyek sains yang kecil-kecil, menumbuhkan  minat anak pada sains semakin meningkat. Salah satu kunci utama yang diperlukan untuk belajar sains adalah rasa ingin tahu yang besar. Benar. Untuk menggalakkan kecintaan anak-anak pada dunia sains, dimulai dengan memperkenalkan anak-anak pada proyek-proyek sains yang sederhana namun menantang bagi mereka. Saya sangat salut dengan ide dan rancangan penelitian sains yang dimunculkan. Sederhana, namun menggelitik dan sering dialami masyarakat.


Model kegiatan ini diharapkan terus berlanjut dan berkembang yang sejalan dengan Visi IPTEK 2025 (SK Menristek No 111/M/Kp/IX/2004) yang menargetkan Indonesia termasuk ke dalam 25 negara termaju di dunia pada 20 tahun ke depan.
  
Tentunya penguasaan ilmu ilmu dasar akan menjadikan kita sebagai negara yang diperhitungkan dalam percaturan dunia, karena negara negara yang kuat saat ini adalah yang menguasai ilmu ilmu dasar dan memanfaatkannya untuk kecerdasan, kemakmuran, dan kesejahteraan rakyatnya serta kemajuan negerinya.

Model kegiatan semacam ini akan dapat menumbuhkan kreativitas guru dan siswa, secara lambat laun pembelajaran sains akan bergeser kepada siswa sebagai subjek dan guru sebagai fasilitator, sehingga siswa terkondisikan menjadi kritis, kreatif, dan dapat mengeksplorasi alam sesuai dengan kemampuannya. Konsekuensi lanjutannya adalah terjadinya proses alienasi siswa dari lingkungannya. Siswa tidak paham untuk apa sains itu dipelajari, karena konsep-konsep sains yang mereka pelajari tidak bisa mereka terapkan dalam kehidupan sehari harinya. Muncullah anggapan, mempelajari sains merupakan beban bagi mereka dan akhirnya siswa pun merasa sains merupakan momok, yang menakutkan dalam pembelajarannya. Padahal, semestinya proses pembelajaran sains dimulai dari mengamati fenomena-fenomena alam secara terstruktur.
science3
Proses pembelajaran yang menekankan pengamatan secara terstruktur itu tentunya memerlukan guru yang memahami bidang keilmuannya secara mendalam, luas, dan menjiwainya serta menguasai ilmu pedagogi secara baik. Karena itu peningkatan kompetensi guru, baik dalam pemahaman akan mata ajarannya, juga dalam pedagoginya merupakan sesuatu yang mutlak. Saya setuju dengan sindiran Rukman Nugraha, sebagus apapun kurikulum pendidikan, selama pola pikir kita dalam pendidikan sains belum berubah, sejauh itu pula pendidikan sains kita akan terpuruk. Pendidikan sains bukanlah tugas guru semata. Tempatnya pun bukan hanya di ruang ruang kelas atau laboratorium. Pendidikan sains merupakan hak sekaligus kewajiban kita agar apa yang diharapkan dari pendidikan sains ini, yaitu semakin cerdasnya umat bangsa ini dapat terwujud. Bekal apa yang perlu diberikan kepada anak-anak supaya sukses kelak? Dunia kita membutuhkan sesuatu yang bukan sekedar otak pintar dan prestasi sekolah. Lebih dari itu, karakter positif! Menumbuhkan kecintaan pada sains, anak berkesempatan untuk mengembangkan karakter positif dengan menggunakan eksperimen sains sebagai media.

Sains sebagai bidang ilmu dan sebagai proses untuk mengetahui dinyatakan dalam kurikulum pendidikan sains. Sains sebagai bidang ilmu, lebih banyak mengarahkan siswa lebih memahami konsep-konsep sains yang ditemukan oleh para ilmuwan sains, lebih banyaklah siswa dijejali dengan pengetahuan sains yang bersifat ingatan. Padahal landasan filosofi pembelajaran sains adalah filsafat pendidikan progresivisme, proses pembelajaran sains yang berpusat pada siswa dan memberikan penekanan lebih besar pada kreativitas, aktivitas, belajar “naturalistik”, hasil belajar “dunia nyata”, dan lebih dari itu “berbagi pengalaman dengan teman sebaya”.  Progresivisme sangat berlawanan dengan filosofi “efisiensi pabrik”, suatu model yang menumbuhkan pembelajaran semu (artificial instruction) dan belajar yang dikendalikan oleh buku teks dan tes tertulis, sehingga seolah-olah tergambar pembelajaran sains di sekolah sangat jauh dari dunia nyata, sehingga hanya memiliki sedikit bahkan tidak bermakna bagi sebagian siswa.


Sumber: semangat belajar.com 
Share this article :

Posting Komentar

POST

 
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Copyright © 2011. Bukan Sastrawan . All Rights Reserved.
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger