News Update :
Home » » Kebudayaan Indonesia Hilang Keasliannya

Kebudayaan Indonesia Hilang Keasliannya

Penulis : Rey Yudhistira on Sabtu, 06 November 2010 | 02.03




Indonesia adalah negeri yang sangat kaya akan kebudayaannya. Bagaimana tidak? Kurang lebih 742 bahasa daerah, 33 pakaian adat dan ratusan tarian adat tercatat dari Sabang sampai Merauke. Sudah selayaknya kita sebut “miniatur dunia”.


Tidak banyak yang mengetahui bahwa kebudayaan Indonesia konon berasal dari Peradaban Lemuria, peradaban yang besar setelah tenggelamnya peradaban yang juga kita kenal, Peradaban Atlantis. Konon Peradaban Lemuria itu bertempat lembah yang sekarang tenggelam di laut jawa. Peradaban Lemuria itu tenggelam ketika permukaan laut naik hampir 400 m seiring mencairnya es di kutub akibat perubahan iklim global.


Sejarah ini, tidak begitu banyak dikenal oleh rakyat Indonesia mengingat pada tahun 1800an, Belanda mengangkut buku-buku dari Jawa sebanyak 5 kapal. Buku yang berisi tentang asal muasal kebudayaan Indonesia-pun hilang bersama buku-buku yang lain. Bisa dipahami juga bangsa Indonesia seperti bangsa yang kehilangan akar-nya.

Kebudayaan Indonesia yang begitu besarnya ini, sayangnya, tidak dijaga dengan baik dan benar oleh Rakyat Indonesia khususnya pemerintah. Berbagai macam kebudayaan dipatenkan oleh Negara tetangga. Satu contoh yang akan kita bahas adalah Reog ponorogo yang telah dipatenkan oleh Malaysia sebagai Tari Tradisional Malaysia dengan nama Tari Barongan.Itu dilakukan dengan hanya mengubah Pakem-pakem reog kecuali atribut-atributnya.

Pada zaman “edan” ini baik secara fisik maupun bentuk budaya warisan kekayaan budaya bukan saja menghilang, tetapi ada yang pelan-pelan telah berpindah menjadi milik bangsa lain sehingga hal ini sangat menyakitkan.James F Sundah Ketua Bidang Apresiasi Seni Budaya Nasional dan Pengembangan Teknologi Informasi PAPPRI( Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia) mengatakan hal itu dalam dialog seni tradisi Solo Internasional Ethnic Music (SIEM) 1-5 September 2007, di Solo, Jateng, Rabu.

Ia mengatakan, tidak cuma `merebut` wilayah fisik, ekspansi kedua negara ini juga sudah merambah ke beberapa kekayaan budaya dan kesenian lokal Indonesia.

“Saat ini dalam perang digital semua kekayaan warisan leluhur kita telah menjadi rancu siapa pemiliknya. Dalam waktu tidak lama lagi mungkin akan berpindah menjadi milik mereka,” katanya.

Dalam ajang kompetisi global yang mengandalkan dunia teknologi informatika, katanya, Indonesia memang jauh tertinggal.

Ironisnya semua fakta-fakta ini tidak banyak disadari oleh para petinggi dan penentu kebijakan di negeri ini karena ada beberapa faktor penyebabnya.

Ia mengatakan, semua itu kemungkinan disebabkan selain sibuk mengejar kekuasaan politik juga keterbatasan anggaran pembangunan menyebabkan perlindungan dan pelestarian warisan budaya.
Hal lainnya yang membuat jati diri buday Indonesia hilang ialah bahasa daerah yang menjadi bahasa ibu bagi sebagian warga Indonesia terancam punah sehingga perlu perlindungan. Kepunahan bahasa sekaligus menandai hilangnya sebagian budaya dan peradaban.

Kepala Pusat Bahasa Depdiknas Dendy Sugono mengatakan, bahasa ibu dengan penutur sedikit cenderung kian punah.

”Fenomena tersebut terjadi di seluruh dunia. Sekitar 50 persen dari 6.700 bahasa di dunia mengalami kepunahan dalam satu abad terakhir. Anak-anak muda meninggalkan bahasa ibunya dan ini tak lepas dari kuatnya pengaruh globalisasi,” ujar Dendy.

Di Indonesia, menurut catatan Pusat Bahasa, sejumlah bahasa daerah tak lagi digunakan. Sebagai contoh, di Papua terdapat sembilan bahasa yang punah. Sedangkan di Maluku Utara ada satu bahasa yang punah.

Di Papua, dari 271 bahasa yang ada, dua di antaranya sudah menjadi bahasa kedua. Di Maluku, dari 132 bahasa, hanya 129 yang aktif dituturkan dan tiga bahasa lainnya hilang. Bahasa yang hilang tersebut bisa saja hilang bersama dengan penggunanya.


berbagai sumber


Share this article :

+ komentar + 10 komentar

6 November 2010 02.24

miris ya

6 November 2010 03.35

jika bukan kita siapa lagi... harusnya itu yang terus digaungkan >.<

6 November 2010 05.59

indonesia memang butuh perubahan tapi harus diingat dari mana kita berasal kebudayaan harus di jaga agar tetap ada dan menjadi kebanggaan kita semua...

jangan sampe terjadi dah.. !

7 November 2010 21.30

Setiap mengingat betapa banyaknya budaya kita yang telah diaku sebagai milik negara tetangga... geram sekali hati ini.

7 November 2010 21.30

Sayang sekali... harusnya pemerintah memberikan perhatian kepada kebudayaan kita agar tak sampai hilang semuanya...

10 November 2010 15.22

indonesia terlalu lemah mempertahankan apa yang dimilikinya.
lewat hari pahlawan mari kita berjuang..

14 November 2010 05.53

bangkit..pertahankan kesenian dan kebudayaanmu..

14 November 2010 20.40

Menyedihkan sekali ya. Harusnya ada upaya yang nyata dari pemkab setempat untuk melestarikan bahasa daerah tsb.

17 November 2010 05.00

wah, sudah seharusnya kita jaga budaya kita.btw, templatenya keren nih.

Posting Komentar

POST

 
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Copyright © 2011. Bukan Sastrawan . All Rights Reserved.
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger